ANTARA GETUK GORENG SOKARAJA – ROTI KARTIKA SARI
BAGIAN KE I
“TING TONG TING TUNG....TING TONG TING TUNG.....Perhatian kepada calon penumpang kereta api purwojaya jurusan Gambir-Kroya agar bersiap karena kereta sudah menuju stasiun Bekasi.”
Ah, dari semua pengumuman yang pernah kudengar, pengumuman inilah yang paling aku tidak suka. Pengumuman yang mengisyaratkan bahwa aku harus meninggalkan kota ini lagi. Kota yang sudah banyak memberi kenangan dalam hidupku. Aku juga tidak tahu kenapa selama kurang lebih tiga tahun aku menuntut ilmu di Universitas Jenderal Soedirman, yang notabene pengumuman ini sudah sering aku dengar namun masih saja membuat hati kesal. Aku teringat akan pengumuman yang membuat aku kabur. Pengumuman dari Sokhib, ketua osisku ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pengumuman yang membahana dari pengeras suara yang kualitasnya sudah sangat jelek. Waktu itu aku merasa capai sekali dan memang aku sudah sampai pada titik jenuh berorganisasi. Aku berhasil melarikan diri dari rapat yang kadang bertele-tele dan aku sebagai junior paling hanya mengangguk setuju bagai kambing congek. Namun, pengumuman dari petugas pengawas kereta api ini tidak lantas membuat aku kabur kembali ke rumah dan mengurungkan niatku untuk menuju Purwokerto dan belajar disana. Aku juga pasti akan sangat malu kepada kedua orang tua ku yang sudah dengan sabar mengantarku sampai tempat ini. Sampai susunan besi panjang yang akan membawa tubuhku ke kota itu. Bukan pikiranku.
Akhirnya kereta itu datang, dan perlahan tapi pasti aku pun menuju tanah perjuangan. Purwokerto.
Ada beberapa hal unik yang terjadi sebelum keberangkatanku ke kota ini. Ibu ku selalu membekali ku dengan sabun, shampo, bahkan sampai ke pewangi pakaian. Aku merasa bahwa barang-barang ini bisa aku beli disana. Namun, ibu selalu bilang,“tidak apa-apa kang. Ini kan bisa menghemat pengeluaran bulananmu.” kata ibu dengan mimik dan nada yang menyejukkan hati.
Berbeda dengan ayahku. Beliau selalu memelukku dengan sangat erat ketika aku akan masuk kereta. Beliau selalu bilang,”ayah akan selalu mendoakan agar akang sukses disana.”
Aku sebagai anak, mengamini dalam hati dan akan belajar sungguh-sungguh agar kedua orang tuaku merasa tidak sia-sia telah membesarkanku.
Lambaian tangan kedua orang tua ku, membawa kereta ini melaju menuju Purwokerto. Kota yang tak pernah terbayangkan olehku. Jujur aku ingin sekali meneruskan pendidikan ke Universitas Padjadjaran, Bandung. Mimpi ini sudah aku susun sejak aku duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan aku sudah saling tukar pikiran dengan sahabatku, Fatih. Anak terpandai satu angkatan di sekolahku waktu itu. Peringkat pertama kelas tidak pernah tergeser selama enam tahun. Aku sendiri yang dekat dengannya tidak bisa menyaingi. Paling aku bisa mencapai peringkat enam. Itu juga mungkin karena faktor beruntung. Dulu, kami senang sekali berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda. Sepeda adalah sarana transportasi yang menyenangkan bagi kami terlebih untuk diriku sendiri. Suatu waktu dalam perjalanan ke sekolah. Kami seperti biasa mngobrol dan saling ledek.
“Nanti mau kuliah dimana Fat ?” tanyaku. Ya pertanyaan ini masih terlalu dini untuk dilontarkan.
Namun dengan santai fatih menjawab, “ Unpad Bandung fan” ujarnya.
“Wah kita bisa samaan dong. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama kesana ya fat”. Ujarku penuh semangat.
“Iya amin. Tapi kalo kita sama-sama kesana, temen gue ga nambah dong ?” ledek Fatih.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Sampai akhirnya gerbang sekolah terlihat.
Mimpi untuk sekolah lagi bersama Fatih di Unpad Bandung sirna sudah. Karena pengumuman SNMPTN mengharuskanku meneruskan pendidikan ke Purwokerto. Sebetulnya aku bisa kuliah di Unpad. Tapi dengan biaya yang selangit tentunya. Karena aku diterima kampus itu melalui jalur mandiri. Biayanya ditaksir tiga puluh empat juta rupiah.
Aku bukan berasal dari keluarga yang berkekurangan. Ayah bisa saja membiayaiku. Namun, menurut beliau jumlah sebesar itu lebih baik dialokasikan untuk hal yang lain. Apalagi aku punya dua adik yang butuh biaya juga. Ayah juga percaya jika aku bisa lolos ujian SNMPTN. Beliau percaya karena aku sejak sekolah dasar sampai menengah atas tidak pernah mengecewakan beliau dengan tidak diterima sekolah negeri. Ya meskipun bukan sekolah bonafide, setidaknya sekolah negeri mendapat bantuan keringanan dari pemerintah. Maka dari itu biaya kuliahku di Unpad tidak dibayarkan oleh ayah.
Marah, kesal, sedih bercampur aduk ketika itu. Namun tidak beberapa lama, setelah pengumuman SNMPTN, dan namaku dengan pongahnya tertulis IRFAN PRADANA, SELAMAT ANDA DITERIMA FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN.
Jantung rasanya mau loncat membaca pengumuman ini. Aku kabarkan ke ibu dan ayah. Keduanya bahagia. Alhamdulillah katanya. Kesedihanku sirna karena sekali lagi aku bisa menjadi kebanggaan keluargaku dengan diterima di Universitas negeri.
Kereta ini sudah melewati kota Cirebon. Kota kelahiran wanita hebat di dunia ini. Ibuku. Tiba-tiba you throw the party we get the girl terdengar dari saku celana jeansku. Di layarnya muncul nama TARI. Hati rasanya tersentak. Tari, gadis yang pernah mengisi hidupku kurang lebih selama satu tahun dua bulan. Aku tidak tahu kenapa dia meneleponku.
“Assalamualaikum, ada apa tar ?” tanyaku.
“Waalaikumsalam, Fan udah berangkat ?” ujarnya.
“Oh, udah. Kita udah ga berdiri diatas tanah yang sama nih.” ujarku.
“Maksudnya ?” Tari heran.
“Iya aku udah ngelewatin cirebon. Berarti kan aku udah ga berdiri diatas tanah pasundan lagi.” kataku menjelaskan.
“Oh hahaha...bisa aja kamu mentang-mentang aku di Bandung kamu di Purwokerto.” tawanya. Ya aku selalu merasa jika sudah melewati kota Cirebon, aku dan Tari sudah berdiri diatas tanah yang berbeda. Dia di pasundan aku di jawa.
Sudah tiga bulan ini aku dekat lagi dengan dia. Sebelumnya tidak. Bahkan aku sama sekali tidak tahu kabarnya dia. Paling yang aku tahu dia diterima di IT Telkom Bandung. Kampus teknik yang cukup terkenal di Indonesia. Aku sudah berjaga jarak dengan Tari kira-kira tiga tahun. Sejak dia punya pacar lagi. Aku hanya ingin menghormati pacarnya dengan tidak berhubungan dengannya. Tapi tiga bulan terakhir ini kami mulai dekat karena kabarnya dia sudah putus. Hal yang sangat aku sayangkan. Betapa tidak, seseorang yang sudah berpacaran lama seharusnya sudah tahu kejelekan dan kebaikan pasangannya. Dan tidak seharusnya kata putus keluar dari mulut salah satunya. Ah tapi ya sudahlah, itu kan urusan mereka.
“Kamu sampai kapan kuliah ?” tanya Tari.
“Sampai lulus lah hahaha” jawabku sekenanya.
“Ih maksud aku semester ini sampai kapan kuliahnya ?”
“Oh, sampai Juni.”
“Wah kita samaan dong.”
“Ih siapa yang mau disamain sama kamu. Ga level hahahaha.”
“yaudah.......”
Hening. Ya Tari tidak berubah sama sekali. Masih suka ngambek, manja, dan kadang kejutan-kejutan sikap yang dia ekspresikan kepadaku membuat aku mngernyitkan dahi. Rasanya seperti kembali ke empat tahun yang lalu ketika kami masih bersama.
Kami pertama kali bertemu di sekolah menengah pertama. Di perkumpulan osis tepatnya. Sebelum pengurus osis terpilih, kami dilatih dahulu bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Dan di kamp latihan itu kami bertemu. Kedekatan-kedekatan mulai terjalin. Layaknya anak yang masih duduk di bangku menengah pertama. Ledekan dan candaan kita kadang terlalu berlebihan. Apalagi kelas dua kami sekelas. Makin menjadilah keisengan kami berdua untuk mengisengi satu dan yang lain.
Tari adalah contoh gadis yang suka lagu melankolis seperti Glen Fredly, Ada Band, atau Sheila On 7. Berbeda denganku yang lebih suka musik keras yang terkadang membuat ibu marah karena bising. Dia juga tipe-tipe gadis yang memiliki senyum yang sempurna. Ya senyumnya membuat hari setiap orang yang melihatnya menjadi hari terbaik yang pernah ada.
Sebetulnya sejak kelas dua ini, aku sudah memendam hati kepadanya. Namun, mungkin aku adalah salah satu anak muda kuper. Perkataan cinta itu tidak pernah keluar dari mulutku. Sampai akhirnya, kelas tiga kami tidak sekelas. Dan ada kabar Tari “ditembak” oleh temanku sendiri. Satya.
“Ah aku telat.” batinku.
Kesal pasti, marah apalagi. Tapi lebih marah kepada diriku sendiri. Kenapa tidak dari dulu saja aku bilang cinta ke Tari. Mungkin ceritanya tidak akan seperti ini.
Aku beranikan diri jam istirahat untuk mampir ke kelasnya. Ya mudah-mudahan tidak bertemu Tari yang sedang bercanda tawa dengan Satya.
Sesampainya di depan kelas Tari, entah apakah ada malaikat yang mendengar lalu menempatkan dia di ambang pintu kelasnya. Tanpa satya pula.
“Eh Tari...Ciee selamat ya. Laku juga lo.” selorohku.
“Ih apaan sih lo Fan ? Tapi makasi ya.” ujar Tari.
Sumpah, bumi telanlah aku !!! manusia yang menyesal karena telat mengungkapkan isi hati ini. Hari-hariku setelah ini diisi dengan kesibukan di osis dan tentunya mencari berita soal Tari dan satya.
Bagai tersengat lebah raksasa, darah ini mendesir ketika Rio teman semejaku bilang sebetulnya Tari tidak suka dengan Satya. Tari menerima Satya karena Tari takut.
Dalam benakku, “ok sekarang saatnya aku berdoa agar mereka cepat putus.” bisikku dalam hati.
Jahat ? Tidak, aku hanya ingin mengambil kesempatan agar aku bisa menyampaikan isi hati ini. Aku tidak mau menjadi anak kuper yang menyesal gara-gara tidak sempat menyampaikan apa yang aku ingin sampaikan.
Sampai suatu malam, Crawling terdengar kencang diatas meja belajar. Aku mendapat sms dari Tika. Kami bertiga sudah berteman sejak kelas dua. Tika masih sekelas dengan Tari sampai sekarang bahkan sekarang semeja.
11/09/2006 08.22 pm
DARI : TIKA
Eh, Fan gue punya kabar bagus nih buat lo !!!!
Aku bingung. Apa ya maksudnya ?
11/09/2006 08.26 pm
DARI : TIKA
Ini soal Tari Fan.....
Tari ? Ah sial si Tika membuat aku penasaran dengan pesannya yang gantung.
11/09/2006 08.30 pm
DARI : TIKA
Gini, ternyata Tika itu enggak suka sama sekali sama Satya. Gue kaget, terus gue
tanya sebetulnya dia suka sama siapa. Eh biasa, dia cuma senyum aja..
Jantungku berpacu, bibir ini senyum-senyum sendiri. Omongan Rio waktu itu benar. Tuhan, tolong kabulkan doa ku.
Di sekolah, suasananya berubah drastis. Dari yang suram kaku menjadi penuh harapan. Aku pun tidak tahu kenapa jadi seperti ini. Apa mungkin gara-gara berita dari Tika semalam ? Ah sudah lah.
“Fan, lo nanti mau langsung pulang ?” tanya Rio di menit-menit akhir pelajaran matematika.
“Iya. Kenapa emang ?” aku heran.
“Ah cepet banget. Oia, lo udah tau kalo Tari udahan sama Satya ?” ujar Rio.
“Hah ? Serius ? Udah lama ?” aku penasaran.
“Ya gue juga denger kabar dari anak-anak aja. Katanya udah tiga hari yang lalu. Ehm gue rasa ini kesempatan lo Fan.”
“Ah apaan sih lo ?”
“Yee beneran. Saran gue waktu lo udah ga lama lagi buat bilang cinta ke dia.”
“Iye, nanti gue pikirin.”
“Yah, jangan gitu dong. Apa lo mau gue daftarin di KATAKAN CINTA. Sekalian lo masuk tivi hehehe.”
“Ah sial lo.” sungutku.
Ya, tahun itu lagi jaman-jamannya acara tivi KATAKAN CINTA. Acara televisi yang menayangkan para pejuang cinta. Pas sama keadaanku sekarang.
Di rumah, aku gelisah. Apa seharusnya besok aku nyatakan cinta ? Tapi bagaimana jika aku ditolak ? Yang aku dengar dari pengalaman teman-teman, suatu hubungan pertemanan bisa longgar bukan hanya karena permusuhan. Tapi juga gara-gara penolakan cinta. Dan aku takut pertemanan ku dengan Tari akan longgar gara-gara aku ditolak olehnya. Ah, nanti saja aku pikirkan. Sekarang saatnya tidur karena besok adalah ulangan harian matematika. Entah kenapa matematika adalah musuh abadiku.
Huffff...ulangan harian sudah terlewati. Yang aku benci dari ulangan itu sebetulnya ketika ulangan telah usai. Teman-temanku akan ramai-ramai membahas soal. Padahal mau benar atau salah dari pembahasan setelah ulangan tidak akan mempengaruhi nilai.
Sekarang saat-saat yang sangat mendebarkan buatku. Jam pulang sekolah. Apakah aku harus menyatakan cinta sekarang ? Apakah aku harus pendam rasa ini seperti apa yang dikatakan ka Rizal, guru TPA ku di sekolah.
“Fan, dalam Islam ga ada yang namanya pacaran. Kakak aja ga pacaran sama istri kakak. Dikenalin, atau istilahnya itu ta'aruf. Memang dulu waktu kakak sekolah di STM, pernah ada rasa suka sama temen kakak. Tapi ya kakak pendam aja sampe kita lulus. Setelah itu ya hilang rasanya.”
Kata-kata itu terus terngiang di telingaku. Namun di lain sisi, aku tidak bisa membohongi perasaan ini.
Sampai di suatu ketika, aku putuskan untuk menyampaikan rasa ini. Dengan bantuan Rio dan Tika, Tari diajak ke ruang osis. Ruangan yang aku jadikan markas setiap kegiatan siswa di sekolah ini.
“Mmmm..ada apa ni Fan ?” tanya Tari.
“Mmmm....ga ada apa-apa. Tu si Tika sama Rio dong yang ditanya. Kan mereka berdua yang ngajak lo kesini.” sumpah, itu tanggapan terbodoh yang pernah aku keluarkan.
“Ada apa sih Tik, Yo ?”
“ udah Fan langsung.” ujar Rio.
“Ok....ok....Gini Tar, sebetulnya gue.......” aku tidak kuasa untuk melanjutkan kalimat ini.
“..............................” hening.
“Ok....sebetulnya gue suka sama lo. Dari suka gue sayang sama lo. Dan gue pengen lo tau waktu gue denger lo ditembak Satya, sumpah hati gue ancur. Tapi setelah semuanya selesai, gue ga mau jadi cowo kuper yang nyesel gara-gara ga bisa nyampein apa yang gue rasa.” wow, lancar banget. Akhirnya aku bisa mengucapkan hal ini ke Tari.
“Oh panjang banget Fan. Bilang aja lo mau gue jadi pacar lo kan ?” tanya Tari.
“Eh iya Tar. Maksud gue itu.” ah, kenapa jadi salah tingkah begini.
“Ok..sebetulnya gue ga mau ngeboongin hati gue Fan. Dan iya gue mau jadi pacar lo.”
Entah aku harus seperti apa. Yang pasti setelah Tari bilang seperti itu, rasanya dada ini lega sekali. Dan terbukti, bahwa Tari menyukai diriku sejak pertama kita bertemu dulu. Iseng-isenganku ke Tari yang lebih membuat dia suka padaku. Ah rasanya dunia berputar. Terima kasih tuhan telah mengabulkan doaku.
Kehidupan percintaan kami tidak berbeda dengan remaja kelas tiga sekolah menengah pertama pada umumnya. Pacaran setiap istirahat, telpon-telponan, bales-balesan sms, ngantar Tari sampai stasiun mobil jemputannya. Ya tidak ada yang aneh dengan gaya pacaran kami.
Tanggal kelulusan pun tiba, alhamdulillah kami seratus persen lulus. Namun, masalah baru muncul disini. Aku dan Tari harus berpisah. Tari sekarang bersekolah di SMA Harapan dan aku di SMAN 4 Bekasi. Tari sempat aku ajak bicara tentang hal ini. Dan kami sepakat tetap menjalin cinta walaupun kami terpisah jauh.
Hari demi hari kami lewati dengan kondisi berpacaran jarak jauh. Aku pun mulai memberanikan diri untuk main ke rumahnya sekedar bertemu dan melepas rindu. Bulan demi bulan, sampai akhirnya genap satu tahun kami bersama. Namun, di satu tahun ini, kami merasa ada yang berbeda. Entah mulai dari mana rasa ini datang. Mungkin karena kesibukan kami masing-masing di sekolah atau memang sudah saatnya kami mengakhiri ini semua. Aku adalah laki-laki yang tidak pernah mau memutuskan hubungan. Maka aku membiarkan Tari yang memutuskan hubungan ini. Aku tidak sampai hati.
Suatu hari tanggal 25 Desember 2007, tanggal ini sudah genap satu minggu aku membiarkan Tari. Tidak memberi kabar, tidak sms, apalagi telpon. Hal ini aku lakukan agar Tari memutuskan hubungan ini. Sebelumnya kami sudah berbicara mengenai rasa ini. Namun, tidak ada jawaban yang memuaskan dari Tari atau aku.
You throw the party we get the girl mengalun keras dari saku celana pendek Adidasku. Di layarnya ada tulisan Tari. Aku curiga apakah Tari akan memutuskan hubungan ini sekarang ?
“Assalamualaikum...fan, kamu sibuk ga ?” tanya Tari.
“Waalaikumsalam...oh engga ko tar. Ada apa ?” pikiranku terus mesugesti jika Tari akan memutuskan aku sekarang.
“Mmm...gimana ya fan. Gini, kalo kita udahan aja gimana ?” suara Tari terdengar gugup dan ragu di seberang sana.
“Oh, iya ga apa-apa. Tapi aku masih bisa nelpon kamu kan ?” tanya ku.
“Oh iya dong....yaudah ya fan....Assalamualaikum.” tutup Tari...
Pikirku benar. Tari sudah tidak tahan aku diami seperti ini. Tapi menurutku ini adalah yang terbaik karena kesibukan dan jarak yang terkadang tak bisa kami jangkau lebih membuat sakit hati ini.
Hari-hari setelah Tari tidak disampingku lagi berlangsung biasa saja. Tidak ada perasaan yang kata banyak orang menyiksa setelah putus dengan pacar. Tapi ada satu momen yang membuat hatiku miris juga. Ketika di sekolah, Yuna temanku yang ternyata teman satu les Tari yang menanyakan hal ini.
“Eh fan, lo udah ga sama Tari lagi ?” tanya Yuna.
“Oh engga na. Udah seminggu ini lah.”
“Ooh sayang banget ya fan. Padahal Tari orangnya baik loh. Cantik lagi.”
“Yah emang udah seharusnya kita udahan na.” aku lemas mendengar ucapan Yuna.
Memang, sungguh di sayangkan keputusan Tari ini. Aku tidak menyalahkan Tari yang sudah memutuskankun. Aku lebih menyalahkan diri sendiri yang terbawa emosi dan suasana. Coba aku bisa lebih sabar. Mungkin tidak akan seperti ini.
Biar sudah putus, aku tidak putus hubungan dengan Tari. Kami masih suka bales-balesan sms, atau bales-balesan shootout friendster.
Sampai suatu ketika, Rio yang sekarang sekelas dengan Tari memberi berita bahwa Tari sedang dekat dengan seniornya. Ah penasaran iya, tapi apa hak ku untuk mencari tahu. Aku bukan siapa-siapanya Tari lagi. Maka, berita ini hanya aku tanggapi dengan biasa saja.
Aku pun disini sudah dekat dengan teman kelas sebelah. Intan namanya. Seorang gadis keturunan cina yang pastinya memiliki kulit putih mulus dan senyum yang renyah. Intan seorang muslimah. Jadi, mukanya saja yang oriental namun hatinya arab.
Aku berpikir tidak akan melanjutkan hubungan pertemanan ini ke langkah selanjutnya. Yaitu berpacaran. Aku masih takut setelah putus kemarin dengan Tari. Lagi juga, Intan adalah tipe gadis yang lebih baik untuk jadi teman sepertinya.
Hubungan ini berjalan sampai kami naik ke kelas dua. Dari kabar yang kudengar juga, Tari sudah jadian dengan seniornya itu. Aku pun tahunya dari Tari langsung. Waktu itu iseng-iseng aku telpon Tari dan menanyakan segala hal sampai ke apakah dia sudah punya pacar lagi atau belum. Sedikit malu-malu, Tari menjawab dia baru saja jadian dengan seniornya. Bagas namanya. Dan mulai dari saat itu aku mengambil langkah untuk agak menjauh dari Tari. Aku tidak enak dengan Bagas. Takut disangka pengganggu.
Aku tahu ini salah tapi, memang ini yang menurutku terbaik. Yah semoga Allah mengampuni.
Aku sekarang sudah kelas tiga yang notabene bisa dikatakan penguasa sekolah. Kelas satu dan dua bisa ditindas. Namun aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk melakukan itu. Aku lebih suka bergerak di kegiatan sosial sekolah bersama juniorku itu. Seperti bakti sosial atau duduk bersama dan mengeluarkan buah pikir demi kemajuan sekolah dan yang lebih luasnya kemajuan negara. Dari kegiatan ini, alhamdulillah aku sering dikirim ke sekolah-sekolah lain. Ya bisa dibilang sebagai duta sekolah. Banyak hal berkesan yang aku alami selama menjadi duta sekolah. Tambah teman, pengalaman, dan koneksi bisa sampai se-kota Bekasi. Sepak terjangku masih satu kota ini. Karena programnya baru ada ketika aku duduk di kelas tiga. Insya Allah, kegiatan turunan ini bisa mencapai level nasional lalu dunia ketika aku sudah lulus nanti. Bisa dikatakan aku adalah angkatan perintis.
Dari semua hal berkesan yang aku alami, mungkin yang paling membuat hati jengkel bercampur puas adalah ketika di SMA Harapan aku bertemu Tari denga Bagas. Ya itu juga dari jarak jauh. Aku tidak berani untuk bertegur sapa dengan Tari. Lagi-lagi aku menjadi remaja kuper seperti keadaan awal. Jengkel karena melihat kedekatan mereka berdua. Namun puas karena akhirnya aku bisa melihat Tari tersenyum senang bersama Bagas.
Sebetulnya sebelum hari itu, aku sudah meresa jengkel dan puas ketika melihat foto-foto mereka berdua di friendster atau facebook. Ah rasanya aku sesak nafas. Tapi kembali lagi, siapa aku buat Tari ? Akhirnya rasa itu hanya aku pendam saja.
Lamunanku terhenti ketika aku sadar tidak ada suara dari seberang telpon sana.
“Tar, kamu tidur ?” tanyaku.
“Engga, cuma bete aja. Masa aku ga selevel sama kamu.”
“Oh soal itu hahaha...jangan diambil hati dong.”
“Iya iya...oia, aku nitip getuk goreng apa namanya yang kemaren kamu bawa ke rumah ?”
“Sokaraja ? Mau berapa banyak ? Hehehe”
“Ih emang aku makannya banyak ? Sekilo aja. Mamah suka fan.”
“Oya ? Insya Allah ya kalo jadwal kita sama.”
“Maksudnya ? Ga ngerti deh.”
“Iya kalo jadwal kita sama. Siapa tau kan aku libur kamu engga atau sebaliknya. Atau aku lagi di Purwokerto kamu lagi di Bekasi misalnya.”
“Ih kamu mah. Doanya yang bagus dong. Biar kita bisa ketemu.”
“Bagas kali ? Hahahaha.....ih kamu kok kayanya nafsu banget.”
“Ah tau ah diledekin melulu. Yaudah deh hati-hati ya.”
“Okay...”
Tari paling tidak suka jika aku ledek dengan kata “Bagas”. Katanya dia tidak mau mendengar kata Bagas lagi. Mungkin gara-gara dia dikhianati oleh Bagas.
Jadi, Bagas sudah lebih dulu kuliah di Telkom Bandung. Dan otomatis mereka berhubungan jarak jauh lebih awal. Tari mendaftar ke Telkom juga awalnya bujukan dari Bagas agar mereka bisa satu lagi disamping Telkom memang kemauan Tari sejak dulu. Hasilnya, Tari diterima kampus itu. Hari-harinya diawali dengan kebahagiaan seperti sekolah dulu. Namun, tidak disangka. Disela jam kuliah, ada senior Tari yang bernama Endah melabrak Tari. Ya urusan labrak melabrak masih terjadi bahkan sampai di lingkungan kampus.
Ternyata Endah adalah pacar Bagas di Telkom. Mereka sudah berjalan kurang lebih setengah tahun. Endah tahu Bagas punya pacar di Bekasi. Dan Endah menginginkan Bagas memutuskan hubungannya dengan yang di Bekasi. Tapi yang keluar dari mulut Bagas hanya “iya” atau “nanti”. Mungkin karena kesal, Endah langsung yang turun tangan. Tari kaget, kecewa, dan sakit hati pastinya. Dia tidak tahu apa-apa soal ini. Tahu-tahu dilabrak dengan semena-mena.
Tanpa ba-bi-bu lagi, sore hari setelah Tari dilabrak, dia minta putus dari Bagas. Berat, karena mereka sudah jalan kurang lebih tiga tahun lebih. Namun karena kebodohan Bagas, semuanya hancur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar