ANTARA GETUK GORENG SOKARAJA-ROTI KARTIKA SARI
BAGIAN KE II
ULASAN BAGIAN PERTAMA : Di dalam kereta menuju Purwokerto, Irfan tengah mengingat masa dimana saat dia masih bersama Tari. Disamping itu, Irfan juga mencoba untuk mengingat bagaimana proses dia bisa dekat lagi dengan Tari setelah putus komunikasi karena jarak yang memisahkan mereka.
Deru kereta yang makin kencang, menghempaskan tubuh seberat 86 kilogram ini. Lamunanku yang menerawang mengingat cerita Tari ketika ia dilabrak oleh Endah. Senior sekaligus selingkuhan Bagas di Telkom. Ah, rasanya jika aku jadi Tari, tak mau lagi aku bertemu dengan Bagas. Alasanku simpel, sudah pacaran lebih dari dua tahun, ternyata hancur begitu saja ketika harus berpisah meskipun sebentar. Toh nanti juga akan menyusul kesana. Ya, mungkin gara-gara Bagas itu laki-laki ? Wanita mana pun bisa dipacari. Aku sebagai laki-laki juga tidak setuju. Karena menurutku, wanita adalah ciptaan Tuhan yang paling indah dan harus dijaga bukan dikhianati.
Enam jam sudah kereta ini membawaku bertolak dari Bekasi menuju Purwokerto. Sebetulnya ada hal yang paling aku tidak suka nomor dua ketika harus ke Purwokerto. Yaitu, aku selalu bingung harus naik angkutan apa untuk menuju rumah in the cost ku.
Jam tangan menunjukkan pukul setengah dua belas. Naik apa aku sekarang ? you throw the party we get the girl berbunyi keras dari saku celana jeansku.
“Assalamualaikum Sar. Ada apa ?”
“Waalaikumsalam Fan. Eh lo udah di Purwokerto ?” suara diseberang sana membalas salamku.
“Eh iya, baru aja sampe. Kenapa gitu ?”
“Engga, gue mau jemput temen gue nih di stasiun. Mau bareng ga ?” tanya orang diseberang sana.
“Ga apa-apa ?” tanyaku ragu.
“Iya udah sih. Ga apa-apa. Lo tunggu di depan aja ya. Dibawah jembatan depan stasiun okay. see you.”
“Oh ok…” jawabku singkat.
Sara, gadis yang berkuliah di Universitas yang sama denganku. Namun kita berbeda fakultas. Aku hukum, dia ekonomi.
Meskipun berbeda fakultas, namun kita berada di lahan gedung yang sama. Karena fakultas ekonomi, fakultas hukum, rektorat, dan kantor administrasi pusat Universitas berada di lahan yang sama.
Pertemuanku dengan Sara diawali ketika aku pertama kali sampai di Purwokerto untuk registrasi. Waktu itu aku yang diantar oleh ayah dan ibu langsung check in di hotel dekat kampus. Jika diperhatikan, hotel ini menjadi tempat penginapan yang strategis bagi mahasiswa baru sepertiku waktu itu.
Ibu adalah orang yang tidak bisa duduk santai, beliau langsung jalan-jalan disekitar hotel sekalian melihat lingkungan sekitar kampusku nanti.
Lumayan lama ibu tidak kembali ke kamar hotel. Sekitar pukul lima sore ia kembali dan bercerita bahwa kamar sebelah juga mau registrasi besok.
“Kang, anaknya kamar sebelah mahasiswa baru juga loh.” Ujar ibu.
“Masa mah ? tau darimana ?”
“Yee..tadi waktu mamah lagi jalan-jalan, eh ibu yang kamar samping tiba-tiba manggil mamah. Dia nanya apa anak mamah anak baru juga sama kaya anaknya ? gitu”
“Ooooh…fakultas apa mah ?”
“Yah, akang tanya sendiri lah nanti.”
Aku penasaran. Kira-kira dia fakultas apa ya ? apa sama denganku atau tidak.
Esok hari pun tiba. Aku dengan memakai kemeja putih polos berdasi hitam dan celana panjang bahan warna hitam menuju tempat registrasi. Yaitu, di lingkungan fakultas ekonomi.
Aku belum bertemu dengan anak kamar sebelah yang kata ibu mahasiswa baru juga.
Sekitar dua jam aku dalam proses registrasi dan mendaftarkan diri sebagai peserta ospek fakultas. Ospek yang menurutku tidak seseram MOS di sekolahku dulu. Ospek lebih ke acara seminar yang dibalut dengan acara kumpul di lapangan. Tidak seperti MOS yang harus dibentak-bentak oleh senior dan tentunya aku siswa baru harus meminta tanda tangan mereka senior brengsek yang sangat menguras tenaga.
Dilihat dari jadwalnya, aku masih bisa pulang. Karena jadwal ospek baru dimulai satu pekan lagi. Maka, ayah langsung inisiatif membeli tiket kereta untuk kami kembali lagi ke Bekasi.
Diperjalanan pulang ke kamar hotel, aku terus menebak-nebak akan seperti apa nasibku hidup jauh dari ayah dan ibu. Bagaimana jika aku sakit nanti ? bagaimana jika mereka yang sakit ? ah waktu itu pikiran berkecamuk di kepalaku.
Sampai di depan kamar, ternyata ibu tengah berbincang-bincang dengan seorang wanita paruh baya yang sepertinya berumur sama dengan ibu.
“Nah, bu ini anak saya Irfan. Fan ini loh ibu kamar sebelah yang anaknya mahasiswa baru juga.” Ujar ibu memperkenalkan.
“Oh iya, mah. Kenalkan tante nama saya Irfan.” Kataku.
“Oh iya, Irfan anak tante juga baru selesai registrasi loh. Tapi sayang ya nanti engga bisa kuliah bareng. Soalnya anak tante fakultas ekonomi.” Ujar Ibu anak itu ramah.
“Wah sayang banget ya tan.” Aku berdiri malu-malu disamping ibu.
Dari arah kamar sebelah, gadis itu muncul. Seorang gadis berkulit putih agak kurus ini menghampiri ibunya.
“Mah, kata ayah mau pulang kapan ?”
“Oh iya sayang, hari ini. Nanti jam dua belas kita check out. Oh iya sar, ini anaknya kenalan dong !”
“Eh hai..nama gue Sara. Salam kenal.” Ujar gadis itu ramah.
“Ya, nama gue Irfan seneng bisa kenal.” Balasku.
Setelah itu, aku langsung masuk ke kamar untuk membereskan barang-barang karena kereta yang akan mengantarku nanti sampai Purwokerto pukul satu.
“Mah, si Sara itu rumahnya dimana ?” tanyaku dalam perjalanan kembali ke Bekasi.
“Tadi sih kata ibunya, mereka orang Cibitung. Deket loh dengan Bekasi. Mungkin aja nanti kamu bisa bareng kang.” Ujar ibu.
Oh dia orang Cibitung. Ya ada benarnya juga apa yang dibilang ibuku. Nanti kita bisa pulang atau berangkat bersama.
Rasanya waktu sepekan sebelum ospek tiba sangat cepat. Dalam sekejap aku sudah benar-benar menjadi pemuda in the cost. Hidup yang tidak pernah terbayangkan sama sekali. Kamar yang aku tempati terpisah-pisah. Bisa dibilang seperti kamar kontrakan di daerah Bekasi atau Jakarta. Hanya berukuran 4 kali 5 meter dengan teras kecil di depannya. Sempat dulu aku membayangkan kehidupan in the cost itu akan sama persis seperti di novel konyol anak-anak in the cost yang aku baca. Ternyata keadaannya berbeda sekali. Kami lebih ke masing-masing. Selfish.
Ditambah aku satu-satunya mahasiswa baru disini. Yang lainnya adalah mahasiswa lama. Bahkan kebanyakan akan lulus satu atau dua tahun lagi. jadi, kehidupan in the cost ku tidak terlalu seru. Monoton.
Setidaknya aku sempat berkenalan dengan mereka. Jumlah kami lima orang. Aku satu-satunya yang dari daerah Jawa Barat. Satu orang dari Jawa Tengah dan sisanya Sumatera Utara. Heran, kenapa banyak mahasiswa luar pulau Jawa yang mendaftarkan diri kesini.
Di pagi hari yang masih berkabut. Aku bersiap untuk mengikuti persiapan ospek. Jalan kaki adalah satu-satunya cara untuk menuju kampus. Diperjalanan itu, sepertinya aku kenal dengan gadis yang berjalan sendiri disampingku.
“Hai, Sara ya ?” tanyaku ragu.
“Eh hai…Iya…sebentar, kayanya gue kenal lo deh. Irfan kan? Yang dulu nginep di kamar hotel sebelah gue ? apa kabar ?” tanya Sara ramah.
“Oh iya baik gue. Alhamdulillah. Lo hari ini juga persiapan ospeknya ?”
“Engga, gue udah dari kemaren. Hari ini persiapan kedua. Duh, bete nih gue. Ada yang bilang ospeknya kaya anak SMA. Harus pake topi karton, tas kardus. Ah kaya gembel deh pokonya.”
Jleb..Tidak tahu kenapa setiap aku mendengar mos sekolah, jantung ini langsung berdebar kencang. Sial memang seniorku dulu di sekolah. Mereka berhasil membuatku menjadi malas untuk mengikuti acara orientasi.
“Oh, semangat Sar. Mudah-mudahan gue ga sama kaya lo hehehe.”
“Hahaha..iya mudah-mudahan. By the way nomor hp lo berapa ?”
“Oh nih.” Aku mengeluarkan telpon genggam dari saku celana dan menunjukkan nomor telponku.
“Lo ga hafal nomor sendiri ya ?”
“Eh iya hehehe.”
Jangankan nomor sendiri. Nomor telpon ibu atau ayah saja aku tidak hafal. Tapi anehnya aku malah hafal nomor telpon rumah Tari sampai sekarang.
“Nanti nomor gue nyusul ya.” Sara dengan gaya genit langsung masuk ke lingkungan kampusnya yang sudah dipenuhi oleh mahasiswa baru berbaju abu-abu. Sedangkan aku, memakai kaos dan celana jeans. Benar-benar santai.
Malam setelah persiapan ospek, Sara memberi nomornya via sms
23/08/2009 08.00 pm
DARI : 0856345XXX
Hai Fan, ni gue Sara. Di save ya nomor gue ^.^
Mulai dari sekarang aku bisa bekomunikasi dengan Sara. Yah, setidaknya aku tidak merasa sendiri disini.
Ospek fakultas hukum sangat diprioritaskan mengenai bagaimana caranya kita untuk peka terhadap lingkungan. Kita dilatih untuk bisa peduli terhadap lingkungan sekitar. Setidaknya lingkungan sekitar kampus.
Tidak sesadis dan seseram mos di sekolah. Aku dengan ceria melewati orientasi di kampus merah.
Tradisi disini, setiap tahun ajaran baru akan ada konser selamat datang. Biasanya yang manggung adalah band-band besar jaman sekarang. Kebetulan yang konser waktu itu adalah Vierra. Band beranggotakan empat orang anak muda yang dimotori oleh anak salah seorang komposer Indonesia.
Sebagai anak baru, aku belum kenal banyak orang. Malah bisa dibilang aku hanya kenal dengan teman satu kelompok ospek. Jadi, aku agak bingung untuk mengajak siapa ke konser malam itu.
Abang-abang satu kosan sudah punya acara masing-masing. Mereka bilang itu acara yang bukan lagi di umur mereka. Berarti sukses aku tidak ada teman untuk menonton bersama. Teman-teman satu kelompok aku pun sama. Mereka lebih memilih tidur atau menonton televisi.
Sedang bingung, di kepala terbesit nama SARA. Ya, Sara bisa aku ajak untuk menonton konser ini.
Aku ambil telepon genggamku, dan langsung mencari nomor Sara.
“Assalamualaikum, Sar sibuk ga ?” tanyaku berbasa-basi.
“Waalaikumsalam, engga ko Fan. Gue malah free. Ga ada kerjaan.” Ujar Sara.
“Mau gue ajak ke konser Vierra ?”
“Oh ok. Jemput gue tapi. Kosan gue di jalan gunung Sumbing. Tau kan lo ?”
“Tau tau..lo tunggu aja di depan pintu gerbangnya.”
Akhirnya, aku dapat teman untuk menonton konser itu. Sekitar pukul setengah tujuh kujemput Sara. Meski dengan jalan kaki, aku tetap ke tempat Sara untuk menjemputnya.
“Fan, lo emang suka sama Vierra ?” di jalan menuju konser yang hanya kami berdua saja.
“Oh ga terlalu. Gue suka sama Widi aja. Cantik dia hehehe.” Jawabku malu-malu.
“Sama ya semua cowo. Suka sama cewe putih.”
“Ah engga juga. Cantik atau indah dilihat itu relatif Sar. Yang penting kita bisa setia atau engga. Bukannya suatu hubungan itu perlu yang namanya setia ?”
“Iya sih. Eh lo kayanya jago deh soal cinta-cintaan.” Ujar Sara sambil terus merapat kepadaku karena jalanan sudah ramai oleh orang-orang yang ingin menonton juga.
“Hahahaha…engga Sar. Ini mah dari pengalaman aja.”
“Oh hahahaha…eh tuh udah keliatan tempat beli tiketnya. Yu cepet keburu diduluin sama orang.” Ajak Sara sambil menggandeng tanganku.
Malam itu Vierra main sangat spektakuler. Meskipun baru sekali aku melihat perform live mereka, namun aku bisa memberikan dua jempolku untuk pementasannya. Sara juga terlihat senang. Ketika dia melompat-melompat di lagu “Jadi Yang Kuinginkan” atau menari pelan di lagu “rasa ini”.
Di perjalanan pulang, “Sar makasi ya udah mau nemenin gue.”
“Iya Fan sama-sama. Gue ga nyangka di tempat yang jauh dari temen sama keluarga, gue bisa seseneng ini. Makasi ya.” Ujar Sara sambil tersenyum.
“Sip, nah udah sampe kosan lo nih. Gue ga bisa nganter lo masuk hehehe.”
“Hahahah sip. Makasi ya Fan.” Lagi-lagi senyum yang menghias wajah Sara di malam welcome party itu.
Di umurku yang sudah masuk semester lima ini, rasanya masih bisa untuk menonton konser welcome party. Selain vierra, aku juga suka hadir di acara konser band-band indie. Konser idealis semua personilnya. Seperti yang kita tahu, band indie itu tidak terikat oleh label atau perusahaan rekaman komersil. Mereka membuat lagu, memproduksinya, dan memasarkan sendiri. Benar-benar jiwa idealis yang patut diacungi jempol.
Lagi asik-asiknya melamun, dari arah belakang ada yang menepuk bahuku, “hei, bengong aja. Ayo mau gue anterin ga ? si Toni udah di mobil tuh.” Ujar suara dari belakang tubuhku.
“Eh elo Sar udah sampe. Oh si Toni yang mau lo jemput itu. Ayo deh.” Kami bergegas ke mobil Sara.
Semenjak banyak kecelakaan kereta, praktis Sara dibekali mobil oleh orang tuanya. Tapi dia sendiri yang menyetir. Benar-benar gadis yang mandiri.
“Oi Ton, lo ga bilang kalo balik hari ini juga.” Sesampainya di parkiran stasiun.
“Sorry Fan hehehe. Gue kira lo besok.”
“Ah gila lo. Mau ga kuliah gue hahahaha.”
Ya, itulah Toni. Teman satu fakultas. Yang ternyata teman satu kepala sekolah ketika SMA dulu. Toni itu ternyata alumni SMA 14 Bekasi yang notabene dulu diawal berdirinya, satu kepala sekolah dengan sekolahku.
Ada satu nasihat yang selalu aku ingat dari Toni. Ia mengatakan bahwa meskipun aku merasa tidak punya tampang yang bisa dibilang ganteng, tapi aku punya otak yang lumayan. Waktu itu aku tertawa saja. Karena aku merasa tidak punya otak yang bagus. Terbukti dari indeks prestasiku yang cenderung satu koma.
Ceritanya ketika itu, aku bilang suka dengan Asri, teman satu kelasku denganToni. Dan Toni bilang seperti itu agar aku termotivasi. Mungkin. Tapi, semuanya aku kubur setelah tahu bahwa Asri sudah jadian dengan seniorku. Ah Tari, andai kamu ada disini tapi tidak dengan Bagas. Waktu itu.
“Biar gue yang nyetir Sar.” Toni keluar dari Honda City keluaran tahun 2005 itu.
“Oh ok. Tapi hati2 ya. Lo emang bawa SIM mobil lo ?” tanya Sara.
“Bawa, siap sedia. Tenang ga bakal kaya ke Dieng waktu itu.” Toni meyakinkan kita semua yang seketika masuk ke bagian supir.
“Ok deh langsung jalan. Cape gue.” Aku masuk ke mobil.
“Siap bos. Kencangkan sabuk pengaman dan kita langsung meluncur.” Toni membawa kami ke kosan masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar