Cinta adalah fitrah manusia yang sudah ada sejak dalam kandungan. Buktinya tidak mungkin ada manusia yang terlahir di dunia ini jika cinta tidak ada.
Sekarang gue mau ngomongin soal unsure pendukung cinta itu sendiri. Karena cerita hubungan cinta dengan perasaan, realita, dan kehancuran sudah banyak beredar.
Kita mulai…..
Layaknya senyawa yang ada di dunia ini, cinta juga memiliki unsur pendukung. Sebetulnya unsur pendukung inilah yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang sudah terjebak dalam lingkaran cinta. Bukan lingkaran setan.
Ketika dua pasang manusia sedang jatuh cinta, dalam hal ini levelnya masih pacaran, unsur pendukung cinta kadang diabaikan. Seperti kejujuran, kepercayaan, dan menjaga perasaan pihak lain.
Terkadang unsur ini tidak diperhatikan. Buktinya banyak pasangan yang putus hubungan dengan alasan LDR, diselingkuhi, atau pasangannya yang kurang ajar.
Memang, dalam perspektif agama, atau dalam hal ini Islam, pacaran tidak ada. Maka sebelum lebih dalam lagi, gue bikin tulisan ini atas dasar realita yang terjadi di masyarakat. Jadi, untuk temen-temen gue yang aktivis masjid, harap maklum.
Itu tadi unsur cinta yang sering terabaikan ketika proses pacaran berlangsung. Selanjutnya, ternyata banyak pasangan pacaran yang lolos dalam proses ini. sehingga mereka melanjutkan ke jenjang pernikahan.
Gue ga tau pasti sensasi apa yang di dapet ketika menikah. Karena belum cukup umur dan setiap gue pacaran, pasti bakal berakhir tragis.
Setelah dipikir-pikir ternyata gue tidak mengindahkan unsur pendukung cinta. Tapi, menurut gue, unsur yang diabaikan itu adalah rasa kecenderungan terhadap pasangan. Ya, entah siapa yang mulai, tapi gelagat bosan terhadap pasangan sudah bisa terbaca.
Akhir-akhir ini gue sering ngeliat status ketidaksenangan seorang istri atau seorang suami terhadap pasangannya. Sebetulnya hal ini biasa, karena wajar aja seorang manusia berkecenderungan kurang puas. Tapi yang membuat hal ini menjadi luar biasa adalah mereka memberitahukan kehidupan rumah tangganya di situs jejaring sosial.
Ya wajar kalo mereka masih sekolah atau kuliah. Karena perasaan galau masih sering melanda anak-anak muda ini. Lah, ini udah menikah dan gue rasa tingkat kedewasaannya jug alebih tinggi, malah galau di internet.
Kebebasan sih lo mau nyeritain kehidupan rumah tangga lo atau engga. Tapi menurut gue, mendingan hal ini ga harus dilakuin. Karena cinta sebetulnya mendatangkan kesejukan kepada setiap hati pelakunya.
Salah satu kasus yang pernah gue liat, yaitu si istri kecewa sama suaminya karena menurut dia, orang yang paling dia nomor satukan, atau dalam hal ini adalah suaminya, tidak pernah berkeluh kesah tentang kehidupan pernikahan mereka kepada si istri, malah kepada orang lain. Tentu sebagai manusia yang memiliki perasaan, si istri merasa tidak dianggap. Dia merasa hanya sebagai pengurus anak-anak dan penyalur hasrat seks.
Menurut gue, unsur cinta yang diabaikan dalam soal ini adalah kepercayaan dan keterbukaan.
Bukankah diciptakan setiap pasangan untukmu agar kamu merasa cenderung dan tentram bersamanya ?
Kira-kira itu salah satu surat dalam Al-Quran yang sering ada di belakang undangan nikahan hehehe..
Tapi kita bisa ambil hikmah dari potongan ayat itu. Bahwa, jika lo udah menentukan seseorang sebagai pendamping hidup lo, lo harus bener-bener konsisten ngegunain setiap unsur pendukung cinta itu. Dan sebagai orang yang dinilai dewasa, lo harusnya bisa membaca situasi dan kondisi sebelum melakukan suatu hal.
Kelihatannya simpel, namun butuh perjuangan dalam menerapkan unsur cinta ini.
Balik lagi ke orang yang masih dalam proses pacaran. Mereka yang sudah berpacaran bertahun-tahun bisa saja putus di tengah jalan apabila tidak memperhatikan unsur pendukung cinta itu. Jangankan orang yang berpacaran. Orang yang sudah menikah saja bisa bercerai, apabila mereka tidak memperhatikan unsur ini.
Jadi, perhatikan setiap unsur pendukung cinta. Setuju ???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar